Blogroll

Selasa, 24 April 2018

Bukan di Bali, desa wisata religi ini terletak di Gorontalo


Pesona Pulau Dewata sudah kadung terkenal seantero jagat raya. Bahkan desa desa terpencil di Bali sudah berubah wujud menjadi destinasi wisata kelas dunia. Namun, desa yang satu ini bukanlah aset pulau seribu pura.

Desa Wisata Religi Bubohu
Berjarak kurang lebih 9 kilometer dari pusat Kota Gorontalo atau sekitar 20 menit jika menggunakan roda empat, desa Bubohu menjadi spot wisata unggulan di Serambi Madina. Di desa ini kamu bisa menyaksikan dari dekat kehidupan masyarakat nya yang religius.

Perayaan Walima
Setiap tahunnya, tepatnya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. dilaksanakan perayaan walima. Setiap kelompok menyediakan Tolangga yaitu wadah berbentuk bujur sangkar menyerupai kaki meja dan dibawahnya terdapat lantai yang terbuat dari bilah bambu kecil. Tolangga ini diisi berbagai macam makanan ringan serta toyopo dan diberi hiasan warna warni. Sebelum dibagikan ke masyarakat, tolangga akan di doakan terlebih dahulu di mesjid kampung. Perayaan Walima ini dipadati wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang lagi berkunjung ke Gorontalo.

Wombohe, ciri khas Bubohu
Di desa wisata religi ini terdapat pesantren alam yang dikelola oleh bapak Yosef Tahir Ma'ruf (Yotama). Salah satu keunikan dari pesantren ini yaitu wombohe (gubuk) yang menyerupai Tolangga pada perayaan Maulid Nabi. Wombohe ini sering dijadikan tempat beristrahat wisatawan yang berkunjung, sambil sesekali memberi makan burung merpati yang jumlahnya ratusan di tempat ini. Malam harinya wombohe tersebut dipakai untuk membaca alquran maupun kitab kuning (kitab gundul).


wombohe di pesantren alam desa wisata religi Bubohu
Museum Fosil Kayu
Selain bisa menyaksikan wombohe (gubuk) khas desa bobuhu, di lokasi ini kamu bisa melihat museum fosil kayu dari berbagai daerah di Indonesia. Ini merupakan museum fosil kayu terbesar di asia tenggara.


Paket Wisata Gorontalo 3D2N

  Pax Harga/orang
2 IDR 2,815,000
3 IDR 2,219,000
4 IDR 1,921,000
5 IDR 1,743,000
6 IDR 1,623,000

* Harga per pax (orang)
** Diatas 6 orang bisa ditanyakan langsung via whatsapp
 
Harga Include:
  • Transportasi selama di Gorontalo
  • Semalam di Pulau Saronde
  • Semalam di Hotel
  • Makan selama trip
  • Perahu island hopping di Pulau Bugisa
  • Tiket masuk kawasan wisata 
  • Air mineral 600ml/orang/hari
  • Guide lokal 
  • Dokumentasi
 
Harga Exclude:
  • Tiket pesawat
  • Biaya asuransi perjalanan
  • Makan dan minum diluar paket
  • Loundry, bar & telepon
  • Tipping guide, porter & driver

Destinasi:

Itenerary



DAY 1: BANDARA – SARONDE
Tiba di Bandara Djalaludin di Gorontalo bertemu dengan guide kami, anda akan langsung kami antar ke Pelabuhan Kwandang untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Saronde sekitar 45 menit. Setelahnya anda bisa santai sejenak menikmati suasana di Pulau Saronde. Malamnya anda bisa menyaksikan deretan bintang bintang dilangit. (MS, MM)


DAY 2: SARONDE-TAMAN LAUT OLELE-CITY TOUR
Setelah sarapan, anda akan kami antar kembali ke Pelabuhan Kwandang untuk selanjutnya menuju Taman Laut Olele sekitar dua jam perjalanan. Setelah menikmati indahnya bawah laut Olele, anda akan kami ajak melihat peninggalan Kerajaan Gorontalo berupa sebuah benteng pertahanan yang disebut Benteng Otanaha dengan view Danau Limboto. Malamnya diantar ke hotel untuk checkin. (MP, MS, MM)


DAY 3: HOTEL-BANDARA

Makan pagi di hotel. Anda akan kami antar ke pusat oleh-oleh untuk berbelanja buah tangan khas Gorontalo. Selesai berbelanja, anda akan menuju Menara Keagungan dan Rumah Adat Po’Boide di Limboto untuk selanjutnya menuju bandara untuk kembali ke kota asal. (MP)
 




Senin, 23 April 2018

Day Trip Gorontalo



* Harga sewaktu waktu dapat berubah tanpa ada pemberitahuan


Sabtu, 21 April 2018

Olele, Surga Bawah Laut Gorontalo


  
Taman Laut Olele, terletak di Desa Olele, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Spot wisata bawah laut ini dapat ditempuh dengan kenderaan roda dua maupun roda empat dari pusat Kota Gorontalo selama kurang lebih 40 menit. 

Adalah Fadel Muhammad (Gubernur pertama Gorontalo) yang mengangkat nama Olele menjadi terkenal sedemikian rupa. Kepeduliannya terhadap potensi pariwisata Gorontalo membuahkan hasil.Olele sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta bawah laut. Namanya sudah mulai bersanding dengan nama nama beken lainnya seperti Bunaken, Wakatobi bahkan Raja Ampat di Papua. Alam bawah lautnya yang beragam dan masih virgin menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan.

Kurang lebih 20-an titik menyelam di kawasan taman laut ini. Namun yang sering dan menjadi favorit wisatawan adalah spot Goa Jin (Jin Cave), yaitu sebuah wall yang dimana menyerupai botol jin. Di spot Goa Jin ini, kamu bisa menemukan sponge yang hanya ada di Gorontalo. Namanya Salvador Dali

Salvador Dali Sponge (foto by: Willy Irawan)

Sponge ini beda dengan sponge lainnya, terdapat ukiran ukiran rumit nan cantik layaknya lukisan lukisan sang pelukis terkenal asal Italia, Salvador Dali. Sponge ini hanya ada di perairan Meksiko dan Indonesia. Di Indonesia sendiri hanya ada di Gorontalo.

Selasa, 12 September 2017

Karawo: From Zero To New York



Indonesia tidak hanya di anugerahi Tuhan dengan alam yang luar biasa. Tapi juga di titipkan warisan budaya yang beragam. Dari sabang hinggaMerauke banyak terdapat berbagai macam kain khas daerah. Baik yang ditenun, disulam, hingga dicap. Mulai dari Batik di Pulau Jawa, Songket di Sumatera hingga  Karawo di Sulawesi. 

Dua yang disebutkan pertama tentu sudah kamu kenal bahkan (mungkin) sudah pernah kamu kenakan. Namun yang disebut terakhir masih belum familiar dikalangan pecinta kain nusantara. Yaa, Karawo, merupakan teknik sulaman dari Sulawesi, tepatnya Gorontalo. Kain Kerawang (Karawo) belakangan mulai digandrungi. Bukan hanya oleh kaum tua, tapi juga sudah mulai masuk ke ranah anak muda yang notabene nya agak malu malu mengenakan kain seperti ini.

Sejarah Karawo sudah ada sejak tahun 1600an, jauh sebelum bangsa Belanda menginjakan kakinya di tanah Gorontalo. Tradisi Mokarawo atau membuat sulaman telah menjadi aktivitas sehari hari perempuan di masa kerajaan Gorontalo masih berjaya. Kedatangan penjajah membuat tradisi mokarawo harus dilakukan secara diam diam di ruang ruang rumah setiap rakyat Gorontalo. 

Proses penyulaman hingga menghasilkan sebuah kain karawo membutuhkan waktu 10-30 hari. Ada tiga tahap dalam pembuatan kain karawo. Pertama, iris-cabut. Kedua menyulam, dan terakhir proses finishing. Tidak mengherankan jika kain karawo merupakan kain dengan citarasa seni yang tinggi.

Era tahun 60an menjadi tonggak sejarah "lahir"nya kembali tradisi Mokarawo di setiap nadi perempuan Gorontalo. Saat itu hampir semua wanita Gorontalo memiliki keahlian Mokarawo. Walau demikian bukan berarti kain Karawo mudah di dapatkan. Pada masa itu jika pembeli ingin menebus kain karawo harus terlebih dahulu memesan pada penyulamnya.

Memasuki masa abad milenium, Karawo tetaplah menjadi tamu di rumah sendiri. Keengganan generasi muda untuk mengenakan kain karawo menjadi faktor dibalik tersendatnya kepopuleran kain sulaman yang satu ini. Motif dan modelnya dicap ketinggalan zaman. Karawo di identikan sebagai pakaian generasi tua, tidak cocok dikenakan remaja.

Hingga tahun 2011 dicetuskanlah Festival Karawo untuk pertama kalinya, sebagai buah keresahan akan tenggelamnya warisan budaya nenek moyang orang Gorontalo tersebut. Festival inilah yang menjadi "trigger" kain Karawo terkenal dikalangan anak muda. Pemecahan rekor Muri untuk penyulam karawo terbanyak hingga munculnya para desainer lokal yang fokus pada pengembangan motif dan desainnya.



Dari sekian banyak desainer lokal, ada satu nama yang sangat concern terhadap motif karawo. Agus Lahinta, begitu nama akrabnya. Dengan dedikasi dan passion yang tinggi terhadap kelangsungan ekosistem kain Karawo, menjadikan pria single yang juga berprofesi sebagai dosen ini berhasil membawa harum nama Kain Karawo hingga kancah dunia.

Tampilnya desain kain karawo di ajang Couture New York Fashion Week 2017 menjadi sejarah tersendiri bagi kain Karawo yang selama ini masih dibawah bayang bayang batik, songket hingga kain tenun khas sumba. Publik nusantara hingga dunia bakal tahu bahwa di Indonesia adapula kain sulaman yang tidak kalah indahnya dibanding kain kain dari daerah lain.

Masih malu menggunakan kain Karawo?

Ayo ke Gorontalo, Rumah Karawo.

Senin, 28 Agustus 2017

Benteng Otanaha, Bukti Majunya Peradaban Gorontalo Di Abad ke-15


Gorontalo atau sering disebut Hulontalo, merupakan salah satu daerah tertua di Pulau Sulawesi. Konon sudah ada aktivitas masyarakat sejak tahun 1500-an. Raja pertama yang diyakini sebagai penguasa di bumi "Serambi Madinah" ini bernama Raja Ilato (Petir) yang beristerikan Permaisuri Tolangohula. Mereka di anugerahi tiga orang anak bernama Ndoba, Tiliaya dan Naha. Dua yang disebut pertama adalah wanita dan anak terakhir seorang lelaki.

Pangeran Naha memutuskan untuk melanglang buana ke berbagai daerah disekitar kerajaan Gorontalo. Sedangkan Ndoba dan Tiliaya tetap tinggal di wilayah kerajaan untuk menemani sang ayahanda. Di zaman itu sebagian besar wialayah Gorontalo digenangi air laut. Termasuk daerah Dembe  yang menjadi letak Benteng Otanaha sekarang.

Suatu ketika, bangsa Portugis yang sudah menguasai Mindanao (Filipina) melalui Vasco Da Gama memperluas jajahanya hingga ke Ternate. Dalam perjalanannya ke Ternate, pasukan Portugis terdampar di Gorontalo karena kehabisan makanan, cuaca buruk hingga di serang bajak laut. Hal ini membuat nahkoda kapal meminta bantuan kerajaan Gorontalo. Gayung pun bersambut, kerajaan Gorontalo bersedia membantu bangsa Portugis dari gangguan bajak laut, namun dengan syarat hatus membantu mendirikan benteng pertahanan untuk kerajaan Gorontalo.

Dalam prosesnya,rakyat kerajaan Gorontalo dengan dibantu pasukan Portugis akhirnya mendirikan benteng pengintai diatas bukit di pinggiran Danau Limboto. Tapi, dengan kelicikannya bangsa Portugis tidak mau meninggalkan kerajaan Gorontalo dan berusaha untuk menjajahnya.

Dibantu oleh Apitalawo (kapitan laut) Lakoro, apitalawo Lakandjo, apitalawo Laguna dan apitalawo Djailani, pasukan kerajaan Gorontalo dibawah pimpinan Ndoba dan Tiliaya berhasil mengusir pasukan portugis dari tanah Gorontalo. Hingga akhirnya angkat kaki meninggalkan pelabuhan Gorontalo.

Tahun 1585, sang pangeran kerajaan Gorontalo, Naha kembali ke kerajaan. Saat itu dia sudah mempersunting gadis pujaannya yang bernama Putri Ohihiya. Dari pernikahannya ini, mereka dikaruniai dua orang putera bernama Pahu dan Limonu

Oleh Naha, ketiga benteng yang dibangun kakaknya beserta Portugis itu dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh. Dalam pertempuran melawan Hemuto di jalur utara, Naha dan Pahu gugur. Untuk membalaskan dendam ayah dan kakanya, Limonu berhasil membunuh Hemuto dalam suatu perkelahian. 

Demi mengenang ayahanda dan kakaknya yang tewas, maka ketiga benteng tersebut dinamai Ota (benteng) Naha (ayahanda Limonu/penemu benteng), Ulupahu/Uwolepahu (kepunyaan Pahu), dan Otahiya (ibunda Limonu/istri Naha).

Sampai saat ini, ketiga benteng tersebut masih kokoh berdiri. Sebagai bukti sejarah kerajaan Gorontalo sekaligus sebagai situs sejarah dan destinasi wisata unggulan di provinsi Gorontalo.

Ayo Ke Gorontalo !!!




Minggu, 16 Juli 2017

Jejak "Liburan" Presiden Sukarno di Serambi Madinah

 


Siapa sangka Presiden pertama RI, Ir. Sukarno pernah menginjakan kakinya di Bumi Serambi Madinah, Gorontalo. Bahkan tidak hanya sekali, tepatnya pada tahun 1950 dan 1956. Presiden pertama RI tersebut datang untuk pertama kalinya pada tahun 1950 menggunakan pesawat amphibi dan mendarat di Danau Limboto (waktu itu Gorontalo belum punya bandara).

Kedatangan Sukarno ke Gorontalo disambut meriah rakyat Gorontalo. Betapa tidak, presiden karismatik itu masih sempat sempatnya meluangkan waktunya untuk melihat langsung keindahan Gorontalo dan kehidupan para rakyatnya yang kala itu masih tergabung dalam pemerintahan Sulawesi Utara.

Lokasi dimana Bung Karno mendarat untuk pertama kalinya di Gorontalo, saat ini sudah menjadi salah satu objek wisata sejarah. Ya, Museum Pendaratan Sukarno namanya. Museum yang berlokasi di desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo ini berada tepat dibibir Danau Limboto yang eksotis itu. Bangunan tua bekas peninggalan zaman Belanda dimanfaatkan untuk menyimpan dokumentasi "trip" Sukarno untuk pertama kalinya ke Gorontalo.

Gedung berukuran 5 x 15 meter tersebut masih kokoh berdiri hingga saat ini. Didalamnya terdapat dua ruangan yang dipakai untuk memajang dokumentasi kedatangan Sang Proklamator hingga koleksi buku dan pecahan rupiah. Bahkan radio zaman dulu juga bisa kalian jumpai saat berada di museum ini.


Diluar museum banyak terdapat gazebo sebagai tempat leha leha sembari menikmati indahnya Danau Limboto. Selain gazebo juga terdapat dermaga berukuran kecil yang menjolor ke tepian danau. Disinilah wisatawan kerap mengabadikan dirinya dengan latar belakang Danau Limboto yang aduhai indahnya itu. Tidak dikenakan biaya untuk masuk ke Museum ini, namun alangkah baiknya untuk tetap menjaga kebersihan dan keindahan dari Museum ini

Untuk bisa mencapai Museum Pendaratan Sukarno, kalian harus menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari pusat kota Gorontalo menuju barat. Tepatnya di Desa Iluta Batudaa. Tidak susah untuk menemukan lokasinya, berhubung letaknya yang tepat dipinggir jalan raya yang menghubungkan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.

Ayo selami jejak jejak bung Karno di tanah  Hulontalo.

 
Gorontalo Luar Biasa!!!

Rabu, 21 Juni 2017

Festival Cahaya di Gorontalo Yang Mirip Deepavali di India





Bulan suci Ramadhan akan segera berakhir. Hanya dalam hitungan hari, bulan suci kaum muslim ini akan meninggalkan kita semua. Di Gorontalo, ada sebuah tradisi di penghujung Ramadhan yang dijaga dan dilestarikan secara turun temurun.


Tumbilotohe namanya. Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo yang artinya "Pasang Lampu". Tradisi ini mirip dengan tradisi "Deepavali" yang kesohor di India. Jika di India festival Deepavali sering disebut Pesta Cahaya maka Tumbilotohe bisa dikatakan "Lautan Cahaya". Setiap sudut kampung kampung di Gorontalo bersolek dalam menyambut tradisi ini.

Tradisi Tumbilotohe sudah ada sejak abad ke-15. Ketika itu penerangan masih berupa Wango-Wango yaitu alat penerangan yang terbuat dari Seludang yang dihaluskan dan diruncingkan. Namun zaman sekarang keberadaan Wango Wango sudah digantikan oleh lampu botol yang bahan bakarnya adalah minyak tanah.

Malam Tumbilotohe sarat akan makna keagamaan. Perayaan di 3 hari terakhir bulan ramadhan diyakini masyarakat Gorontalo sebagai penerang dalam menjalankan ibadah puasa, terutama dalam mencari malam Lailatul Qadar yang diyakini keberadaanya di tiga malam terakhir bulan puasa.

Festival Tumbilotohe sering dilombakan antar kampung, bahkan antar kecamatan di seluruh Provinsi Gorontalo. Walaupun pemakaian lampu botol sudah mulai digantikan oleh lampu listrik, namun tidak mengurangi kemeriahan festival tumbilotohe itu sendiri.




Beberapa sudut kota Gorontalo yang wajib didatangi saat perayaan tumbilotohe yakni Jembatan Talumolo 1 dan 2, Lapangan Tapa, Lapangan Kabila hingga Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Biasanya kawasan tersebut sesak dipenuhi pengunjung yang sekedar mengabadikan indahnya kerlap kerlip lampu Tumbilotohe.

Gimana? Tumbilotohe ga kalah keren dengan Festival Deepavali di India sana kan?
Makanya ga usah jauh jauh ke India untuk menikmati pesta cahaya, cukup ke Gorontalo saja.

Ayo Ke Gorontalo, Luar biasa !!!

Sabtu, 17 Juni 2017

Ini Kue Paling Di Buru Saat Ramadhan di Gorontalo


Bulan Ramadhan selalu ditunggu oleh kaum muslim diseluruh dunia, tidak terkecuali masyarakat Gorontalo yang mayoritas beragama Islam. Di Gorontalo, pada bulan puasa bakal bermunculan pedagang kue musiman yang berjejeran disepanjang jalanan Gorontalo. Salah satu kue yang diperjual belikan adalah Kue Lopes atau Lupis. Ada yang belum pernah dengar namanya?

Kue Lopes memang banyak dijumpai saat bulan puasa. Kue ini bisa dikatakan sebagai ikon nya jajajan kue di Gorontalo selama bulan suci ramadhan. Bagaimana tidak, kue Lopes sangat sulit ditemui saat bulan bulan lain diluar bulan ramadhan. 

Kue yang terbuat dari tepung beras, santan, penyedap rasa dan kelapa yang belum terlalu tua ini sangat sedap dinikmati saat berbuka puasa. Apalagi saat dilumuri gula merah cair. Sensasinya sungguh lezat.

Zaman dulu bentuk kue Lopes hanya berbentuk bulat, namun dalam beberapa tahun belakangan mulai muncul  bentuk lain dari kue Lopes. Salah satunya berbentuk segitiga dan lazim disebut Kue Lopes Segitiga. Untuk warna kue nya sendiri terdiri dari warna hijau yang terbuat dari pondan, warna merah rasa strawberry  dan warna putih vanilla. Untuk cairan gula merah  ada yang rasa original dan durian.

Untuk harganya sangat terjangkau. Hanya dengan 5000 perak, kamu bisa membawa pulang 4 potong kue Lopes sebagai menu ta'jil untuk berbuka puasa bareng keluarga tercinta. tidak sulit menemukan kue ini saat bulan ramadhan. Hampir disepanjang jalanan Kota Gorontalo banyak penjaja kue tradisional ini.

Ayo berburu kue Lopes,guys !!!


Resep Kue Lopes

Bahan ~ bahanya
2 cangkir beras ketan
2 cangkir santan cair dari 1/2 butir kelapa
7 helai daun pandan di blender dengan air putih,jadikan untuk 1/2 cangkir
1 sdt air kapur sirih
1/2 biji kelapa parut muda,di kupas kulitnya
Garam secukupnya

Bahan B ( air gula )
1 cangkir air
1/2 cangkir serbuk gula merah
1/2 cangkir gula pasir
2 helai daun pandan ( di ikat )

Cara membuat
1" cuci beras ketan dan rendam selama 1 - 2 jam
2" masukan semua bahan ke dalam loyang kecuali kelapa parut,kukus selama 30 menit
3" rebus baham B sehingga mendidih dan saring lalu ketepikan
4" angkat beras ketan yng sudah di kukus tadi,bungkus menjadi segi tiga dengan daun pisang lalu kukus kembali selama 15 menit
5" angkat dan taburi dengan kelapa parut yng sudah di campur dengn sedikit garam
Lalu hidangkan dengan air gula merah

Sumber resep: http://taryatinurjamal.blogspot.co.id/2013/06/kue-lopes.html

Sabtu, 10 Juni 2017

Pulo Cinta, Maldives di timur Indonesia


Maldives-nya Indonesia, itulah julukan yang diberikan para pelancong pada Pulo Cinta. Tidak berlebihan memang, keindahan dan fasilitas yang ditawarkan Pulo Cinta bisa dikatakan mirip dengan surganya para selebriti dunia, MALADEWA. Mengusung konsep Eco Tourism, Pulo Cinta menawarkan sensasi liburan berbeda dengan kebanyakan destinasi wisata lainnya di Indonesia. Kelestarian sumber daya alam tetap dijaga dan dipertahankan tanpa mengorbankan privasi para wisatawan yang berkunjung ke Pulo Cinta

Pulau yang terletak di wilayah adminstrasi Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo ini bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 1.5 jam dari bandara Djalaludin di Gorontalo. Bagi kamu yang diluar Gorontalo bisa mengambil pesawat paling awal ke Gorontalo dan selanjutnya melanjutkan perjalanan via mobil sewaan yang banyak tersedia di bandara. Namun ada baiknya kamu berhati hati saat menggunakan mobil sewaan di bandara. Tipsnya, negolah di awal.

Pulo Cinta menawarkan keindahan alam yang begitu luar biasa. Kamu bisa menyaksikan matahari terbit (sunrise) hingga matahari terbenam (sunset) di pulau ini. Pasir putihnya yang begitu halus bisa membuat kamu jatuh cinta dan pengen guling guling manja diatasnya. Tidak hanya itu, di pulau ini kamu bisa bertemu dengan si nemo, ikan lucu nan menggemaskan di film Finding Nemo itu banyak berkeliaran di Pulo Cinta. Cobalah untuk menyapanya :D.

Bukan hanya pemandangan diatas airnya yang menggoda, namun view underwater dari Pulo Cinta juga menjadi incaran para divers yang ingin mencoba menaklukan alam bawah lautnya. Di sekitar Pulo Cinta banyak terdapat spot diving. Bahkan di salah satu spot kamu bisa melihat gerombolan ikan barracuda atau sering disebut Schooling Barracuda, yang membentuk pusaran. Sungguh suatu view yang tidak bakal kamu lewatkan.

Ayo ke Pulo Cinta, Maladewanya Indonesia


Senin, 05 Juni 2017

5 Spot wisata di Gorontalo yang bisa kamu kunjungi sambil pake bentor.

Gorontalo sangat identik dengan Bentor, yang merupakan transportasi khas Gorontalo. Yah, sekilas mirip becak lah, namun dipakein sepeda motor. Bentor sangat banyak di Gorontalo, saking banyaknya malah ada ujar ujaran bahwa populasi bentor lebih banyak dari populasi masyarakat Gorontalo itu sendiri. Wahahahaha.
Kita ga bakalan ngomongin sejarah bentor sih, lebih ke fungsinya sebagai alat transportasi. Sobat Atupato pada tau ga, kalo bentor bisa dijadikan teman untuk mengeksplore indahnya Kota Gorontalo. Kalian bisa menggunakan bentor untuk mengunjungi beberapa spot wisata di Kota Gorontalo. Yuk simak daftar lokasinya di bawah ini.
1. Lapangan Taruna remaja (alun alun)
Ini nih spot pertama yang bisa kamu kunjungi sembari naik bentor. Namanya Lapangan Taruna Remaja. Lapangan ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda loh. Tempat ini sering dijadikan sebagai tempat kongkow anak muda di Kota Gorontalo. Di lapangan inilah berdiri tegak patung pahlawan nasional dari Gorontalo, Bapak H. Nani Wartabone. Jaraknya kurang lebih 5 menit dari pusat kota. Semua abang bentor tahu lokasi ini. So, kamu ga perlu khawatir untuk kesasar.



2. Klenteng Tian Hou Kiong (Tulus Harapan Kita)
Ga jauh dari lapangan Taruna Remaja, berdiri sebuah klenteng dengan desain minimalis. Namanya klenteng Tian Hou Kiong atau dalam bahasa Indonesia disebut Klenteng Tulus Harapan Kita. Klenteng ini sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu. Klenteng ini dibangun oleh masyarakat etnis Tionghoa yang dulunya datang ke Gorontalo sebagai pedagang. Untuk menghormati leluhurnya maka mereka mendirikan klenteng sebagai tempat beribadah.



3. Kota Tua
Sepelemparan batu dari lokasi Klenteng Tian Hou Kiong berada terdapat kawasan yang banyak berjejer bangunan tua. Kawasan ini sejak dulu sampai sekarang menjadi pusat bisnis di Kota Gorontalo. Kawasan yang sering disebut sebagai kawasan Pasar Satya Pradja ini sangat identik dengan bangunan bangunan bercita rasa "Holland".

4. Mesjid Hunto
Gorontalo sering dijuluki sebagai Serambi Medinah karena masyarakatnya yang Islamis dan menjunjung tinggi falsafah agama Islam dalam kehidupan sehari harinya. Ga heran jika di Gorontalo banyak terdapat mesjid sebagai rumah ibadah agama Islam. Nah, di Gorontalo ada satu mesjid yang keberadaannya sudah ada sejak tahun 1495 M. Konon mesjid ini merupakan mahar pernikahan antara raja Amay yang kala itu menguasai jazirah Gorontalo dengan seorang putri dari kerajaan Palasa. Letak mesjid ini berada di kelurahan biawu, kec. Kota Selatan, Kota Gorontalo.

5. Pantai Indah Tangga 2000
Nah destinasi terakhir yang bisa kamu kunjungi sambil naik bentor adalah kawasan Pantai Indah Tangga 2000 yang berada di Kel. Pohe, Kec. Hulontalangi. Berjarak kurang lebih 15 menit dari pusat kota, kamu bisa menikmati sore yang indah nan romantis di Pantai Indah ini. Ga cukup hanya menikmati deburan air laut dan hembusan angin, kamu wajib menikmati jagung bakar ala Gorontalo disini. Jangan lupa untuk berselfie ria dengan backgroud jejak kaki LAHILOTE (legenda rakyat Gorontalo) yang terdapat di pantai Indah ini.



Itu dia spot wisata yang bisa kamu jelajahi dengan naik bentor, untuk estimasi sewa bentornya sekitar 20,000-50,000 untuk keliling Kota Gorontalo. Tapi ingat, kamu harus pintar nawar dan nawarnya di awal yaa guys.